HEADLINE NEWS

Kategori

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pelajar Penghina Presiden

Sorot bolamata.co.id.-Baru-baru ini tersiar kabar seorang remaja berusia 16 tahun membuat video berisi ujaran kebencian yang ditujukan kepada presiden RI.
Remaja berinisial RJ yang saat ini tengah duduk di bangku SMA tersebut memaki presiden Jokowi di dalam videonya. Tak hanya itu, dalam video tersebut juga disertai ancaman pembunuhan. Setelah diselidiki lebih jauh dan ditemukan. Pelaku mengaku bahwa ia tidak benar-benar ingin melaksanakan pembunuhan. Hinaannya tersebut juga hanya sebagai bercandaan dan juga menjawab tantangan dari teman-temannya.


 Dalam kata-kata kasarnya ia pun mengancam presiden. Kemudian ia juga menantang untuk menemuinya dalam kurun waktu 24 jam. Ternyata bukan hal yang sulit bagi polisi untuk menemukannya. Ia akhirnya ditangkap pihak berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Meski begitu, polisi masih menyelidiki kasus ini dan belum menahan pelaku. Menurut keterangan dari Argo Yuwono, selaku Kabid Humas Polda Metro Jaya, pihaknya saat ini belum menetapkan untuk menahan RJ. Namun saat ini remaja tersebut tengah diamankan dan berada di Panti Sosial Marsudi Putra Handayani Jakarta Timur. Ditinjau dari asal mula kasus tersebut, pelaku berinisial RJ menjawab tantangan teman-temannya dengan memberanikan diri membuat video yang berisi hinaan terhadap presiden RI. RJ yang saat itu bertelanjang dada membawa pigura dan menunjuk foto presiden Jokowi serta mengeluarkan kata-kata kasar dan ancaman. Diakuinya video itu dibuat saat berada di sekolah. Saat ini polisi tengah menyelidiki kasus ini. Pelaku sudah diinterograsi. Menyusul kemudian teman-temannya pun akan mendapatkan panggilan dari pihak berwajib sebagai saksi. Namun, saat ini pihak berwajib belum bisa memutuskan apa bentuk hukuman yang akan diterima oleh RJ. Sebenarnya untuk kasus seperti RJ, polisi biasanya menjerat pelaku dengan UU IT dengan ancaman hukuman hingga 6 tahun penjara. Namun, kasus ini berbeda karena RJ masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur. Menjawab hal terseut, Kombes Argo Yuwono selaku kabid humas polda metro jaya mengatakan pihaknya akan menyelesaikan kasus ini sesuai dengan undang-undang yang mengatur sistem peradilan anak. Dalam sistem peradilan anak, bisa saja kasus diselesaikan melalui diversi atau penyelesaian di luar pengadilan. Syaratnya adalah ancaman hukumannya di bawah 7 tahun penjara dan bukan pengulangan tindak pidana. Dalam kasus RJ ini dirinya baru pertama kali melakukan hal tersebut dan ancaman hukumannya kurang dari 7 tahun. Namun, meski begitu pihak kepolisian sudah mengirimkan berkas kasus ini ke kejaksaan. Sampai saat ini kasus masih tetap dalam proses penyidikan. Jika pihak polisi masih belum memutuskan perkara ini, lain halnya dengan pihak sekolah. RJ resmi mendapat sanksi berupa pengeluaran dari sekolahnya. Remaja SMA tersebut mengaku menyesal dan mengatakan bahwa tindakan tidak bermaksud untuk menghina presiden. Karena pelaku masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur, kasus ini juga mendapatkan sorotan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). KPAI mendorong agar penyelesaian kasus bisa lewat jalur diluar peradilan pidana. Seperti yang dikatakan oleh komisioner KPAI Putu Elvina, bahwa perlu dipahami motif anak melakukan tindakan tersebut. Menurutnya, di usia tersebut anak rentan dipengaruhi pendapat dari teman-temannya sehingga melakukan hal-hal yang memiliki sifat tantangan atau pun uji nyali meski risikonya tidak dipikirkan secara matang.  Remaja perlu mendapatkan bimbingan dari orang dewasa, terutama keluarga. Edukasi tersebut mencakup perilaku yang baik di tengah masyarakat. Menghina seseorang terutama di depan publik tentu tidak bisa dibenarkan. Apalagi disertai ancaman. Dan yang dihina juga merupakan seorang yang saat ini menjabat sebagai kepala negara republik Indonesia. Meski penghinaan tersebut dilakukan lewat video. Tapi efeknya sama saja bahkan lebih heboh karena dapat tersebar luas tanpa terkrndali. Sosial media kini sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang. Tak heran jika berita-berita dari sosial media cepat sekali tersebar. Sebelum ini juga ada beberapa kasus orang yang menghina presiden dan berhasil dilacak keberadaannya kemudian ditangkap oleh pihak berwajib untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang membuat konten-konten negatif berisi kebencian terhadap pemerintah, terutama ditujukan pada presiden RI. Seperi halnya yang dikatakan Jokowi terkait kasus video yang menghina dirinya. Jokowi mengingatkan tentang bahayanya media sosial. Meski saat ini media sosial penting bagi banyak orang untuk saling terhubung satu sama lain, tapi jika tidak digunakan secara bijak media sosial justru bisa berakibat negatif. Ada banyak konten-konten yang berisi ujaran kebencian dan bisa cepat viral melalui media sosial. Padahal undang-undang ITE telah jelas dan sudah diatur di Indonesia. Meski hanya di ranah media sosial, seseorang tetap harus menyadari apa yang ia perbuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Kita tentu tahu bahwa negara Indonesia merupakan negara demokrasi yang bebas bagi siapa pun untuk mengeluarkan pendapat. Tapi, cara dalam mengeluarkan pendapat itu yang terkadang salah.(red) 

Previous
« Prev Post

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *